Om Bob Panutanku
Om Bob, Panuntanku.
Habis dari kampung berkebun, lumayan capek melihat hasil kebun banyak yang busuk dan tak layak jualp. Tidak apalah sekali kali menyempatkan diri meneguk sensasi segelas kopi Om Bob, yang katanya Coffe yang telah berdiri 50 tahun lamanya.
Kopi telah kupesan, stel penampilan sudah oke, sambil menghayal seolah-olah sebagai juragan dan seorang atasan yang teramat sukses.
Seduhan pertama masih sangat panas, seduhan kedua dan ketiga sudah mulai dingin. Hayalan makin berkembang hingga sudah menjadi sebagai pemilik tambang dan pemimpin daerah.
Teman diskusi juga semakin mendukung suasana sambil berbicara soal politik dan organisasinya. Saling puji antar kursi makin tak terhindarkan, sambil mengambil rokok kawannya yang tak sadar.
Saat seduhan keempat, sang owner cafe (Om Bob) datang menampar tanpa sentuhan, tapi dengan cerita pengalamannya. Seolah ia bisa membaca pikiran dan hayalan para pelanggannya.
Namun, Hati, pikirian dan ego, masih saja bertahan dengan hayalan seolah memang dia adalah seorang atasan, dengan pembelaan "Bermimpilah setinggi langit, jika kau terjatuh, maka kau terjatuh diantara bintang bintang"
Owner caffe juga semakin menekankan tentang argumennya bahwa "hayalanmu tak seindah itu, habiskan kopimu dan pulanglah siram mie kamu dikost"
Dalam benak kami, Sikap sebagai owner cafe harusnya menjadikan pelanggannya sebagai raja, mengapa ini berbeda justru mematahkan imajinasi pelanggannya? Namun mengapa pelanggannya justru banyak dan tak jarang banyak yang habis dari cafe Om Bob, pasti akan kembali lagi.
Minggu depan habis menjual hasil kebunku, aku ingin datang lagi ke Om Bob.
Ternyata memang terkadang kita memerlukan orang yang lebih jujur meski itu kadang menyakitkan.
Faktanya membangkitkan.
~Hayن
(kamu baca sampai sini?)
Comments
Post a Comment