Om Bob Panutanku
Om Bob, Panuntanku. Habis dari kampung berkebun, lumayan capek melihat hasil kebun banyak yang busuk dan tak layak jualp. Tidak apalah sekali kali menyempatkan diri meneguk sensasi segelas kopi Om Bob, yang katanya Coffe yang telah berdiri 50 tahun lamanya. Kopi telah kupesan, stel penampilan sudah oke, sambil menghayal seolah-olah sebagai juragan dan seorang atasan yang teramat sukses. Seduhan pertama masih sangat panas, seduhan kedua dan ketiga sudah mulai dingin. Hayalan makin berkembang hingga sudah menjadi sebagai pemilik tambang dan pemimpin daerah. Teman diskusi juga semakin mendukung suasana sambil berbicara soal politik dan organisasinya. Saling puji antar kursi makin tak terhindarkan, sambil mengambil rokok kawannya yang tak sadar. Saat seduhan keempat, sang owner cafe (Om Bob) datang menampar tanpa sentuhan, tapi dengan cerita pengalamannya. Seolah ia bisa membaca pikiran dan hayalan para pelanggannya. Namun, Hati, pikirian dan ego, masih saja bertahan...