Sebelum Kita Kepuncak
Mendaki bukit yang sederhana saja.
Karena jika mendaki Gunung yang tinggi, medan yang sulit, jarak yang jauh dan memakan banyak waktu untuk melaluinya di kondisi yang sendat ini, itu sama saja memperkeruh sanubari yang telah di tanamkan saat packing.
Kini kembali kucoba pendakian terpanjangku yang telah kulalui selama 5 tahun termasuk latihan fisik dan materi. Kita telah sampai pada Pos terakhir, namin esok adalah Summit yang tersulit, terparah dan terkejam di kondisi fisik sudah melemah.
Namun nampaknya puncak menatapku di pos terakhir, kutatap balik namun sangat sulit kulihat karena tertutup kabut dan kondisi sedang badai.
Namun apapun yang terjadi, Niat baik, ketulusan dan keikhlasan telah kuserahkan seluruhnya, mati habis habisan ataupun rasa malu jika tak mendapat puncak semua telah kupersiapkan.... Kecuali, 'Jalan Kembali Turun.'
Selama perjalanan memang saya tak memikirkan jalan turunnya, terlalu fokus dan bersuka ria untuk mendapat puncak yang sejuk dan cantik. Puncak yang ku idam-kan untuk kubangunkan istana untuk selamanya. Tapi itu, aku lupa memikirkan cara untuk turun semenjak dalam memilih gunung yang akan kulaluli. Tenaga dan persiapanpun makanan dan obat obatanpun jikan turun telah berkurang jika turun nanti. Karena kata ayah "Jangan mendaki terlalu tinggi, nanti turunnya ribet. Jangan berjalan terlalu jauh, nanti baliknya juga lama"
Benar juga sih, Sebab hidup itu seperti roda berputar, kadang di atas kadang di bawah untuk tetap berjalan. Jadi sebelum mencapai titik tertinggi tentu harus siap merasakan jatuh.
Tapi, Keras kepalaku untuk summit di beberapa hari kedepan telah bulat, apapun yang terjadi meskipun badai menerbangkanku apalagi membuat tubuhku hipotermia karena dinginnya, suhu dingin yang telah kurasa semenjak kubulatkan tekat untuk memilih gunung yang akan jelajahi.
Oke, kita bersiap!
Comments
Post a Comment